Latest Posts

Boateng Pernah Bungkam Barca

Gelandang Las Palmas ini teringat gol indahnya pada 2011/2012 saat berkostum Milan.

LAS PALMAS – Kevin-Prince Boateng memang pernah menjadi pemain bermasalah, hingga sempat tak ada satupun klub yang tertarik merekrutnya. Namun, Las Palmas, klub yang kini di bela olehnya tetap melihat talenta dimiliki pemain kelahiran 1987 itu alih-alih mempersoalkan masalahnya. Kini, Sabtu (14/1), dia akan berada di Camp Nou untuk menjawab kepercayaan klub kepadanya, menghadapi FC Barcelona.

Selama ini terdapat 12 pertandingan di La Liga ia mainkan dan Boateng mencatat lima gol, selain juga telah 11 kali di percayakan sebagai starter oleh Quique Setien, pelatihnya. Disisi lain, menghadapi Barca mengingatkannya pada gol yang paling mengesankan sepanjang kariernya.

Saat itu, dia masih di periode pertamanya di AC Milan, tepatnya di musim 2011/12. Dia membobol gawang Los Azulgrana dengan kontrol bola yang sangat baik, dan melesakkannya kegawang yang di jaga Victor Valdes. Meski Barca menang 3-2, namun hampir tiap kali di tanyakan kalangan media soal gol mengesankan, ia akan menunjuk gol tersebut.

Walaupun sejatinya, terdapat enam kali sepanjang kariernya berhadapan dengan klub Katalunya itu seluruhnya menjadi saat berkostum Milan. Sejak mencetak gol itu, dia juga sempat mencetak gol ke gawang Barca di Liga Champions 2012/13. Namun gol di laga yang di menangkan timnya 2-0 tersebut justru terbilang jarang di ungkit-ungkit olehnya.

Kali terakhir menghadapi Barca, 12 Maret 2013, ia menyimpan kenangan pahit lantaran timnya terkapar di Camp Nou dengan empat gol tanpa balas. Di sisi lain, laga Terakhir itu juga yang meninggalkan kesan tersendiri baginya atas aksi di pamerkan Lionel Messi. Pasalnya, La Pulga mencetak dua gol saat laga baru berjalan lima menit dan menit ke-40 dengan umpan Xavihernandez dan Andres Iniesta.

Tak pelak, saat di tanyakan siapa pemain terbaik di La Liga. Boateng kesulitan membandingkan dua bintang di kompetisi itu, Cristiano Ronaldo atau Messi. “Ronaldo bisa mencetak gol dengan segala cara, dengan kaki kiri dan kanan, juga dengan kepala, jadi dialah pemain terbaik di planet ini,” katanya. “Sedangkan Messi, dia memiliki kemampuan melampaui manusia umumnya. Dia seperti pemain dari galaksi lain.”

Tantangan Berat untuk Clement

Swansea lawan Arsenal, duel tim dengan pertahanan terlemah kontra salah satu skuat pencetak gol terbanyak Liga Primer.

SWANSEA – Paul Clement akan melakoni laga debut sebagai pelatih Swansea City AFC saat menyambut Arsenal FC di Stadon Liberty, Sabtu (14/1). Tugas yang cukup sulit mengingat laga ini mempertemukan tim dengan pertahanan terlemah di Liga Primer dengan salah satu skuat pencetak gol terbanyak di kompetisi paling elite Inggris.

Hingga pekan ke-20, Swansea telah kemasukan 45 gol sedangkan Arsenal sudah mengoleksi 44 gol. Hanya Liverpool FC yang tercatat memiliki koleksi gol memasukan lebih banyak di banding The Gunners. Sebaliknya, tidak ada lagi tim lain yang jumlah kebobolannya lebih banyak ketimbang The Swans di Liga Primer.

Duel terakhir kedua tim ditutup dengan kekalahan 2-3 yang di alami oleh Swansea dari Arsenal. Kali ini, ide baru dan segar yang di usung Clement di harapkan bisa mengangkat performa pasukan Liberty yang sudah kalah 12 kali dari 14 laga liga musim ini. Karena catatan prestasi eks asisten pelatih Carlo Ancelotti cukup menjanjikan.

Clement memenangi 13 dari 30 laga pertama ketika menangani Derby Country dan hanya kalah lima kali. Ketika di pecat dari Februari 2016, The Rams berada di peringkat kelima dan hanya terpaut lima poin di belakang pemuncak Championship. Divisi Dua kompetisi sepak bola Inggris. Kabar baiknya, Clement akan mendapatkan bantuan dari Claude Makelele.

Swansea memang mengontrak Makelele, eks gelandang Chelsea FC dan timnas Prancis, sebagai pendamping Clement. “Makelele akan membawa aura dinamis ke dalam jajaran staf pelatih,” ujar sang pelatih. “Kami bekerja bersama-sama sebagai asisten Ancelotti di Paris Saint Germain selama 18 bulan. Ia sangat mengenal Liga Primer.”

Arsenal Kondusif

Beban Clement begitu besar mengingat Arsenal dalam kondisi kondusif. Utamanya bagi pelatih Arsene Wenger, setelah tiga bintangnya setuju memperpanjang masa kontrak di Emirates. Ketiganya adalah Laurent Koscielny hingga 2020, striker Olivier Giroud hingga 2,5 tahun kedepan, dan Francis Coquelin untuk 4,5 tahun lagi.

Skuat Meriam London pun komplet, termasuk Mesut Oezil yang absen di laga Tahun Baru lantaran sakit.

Sanksi Jadi Lebih Longgar

LONDON – Tepat 1 Januari 2017, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) mengeluarkan peraturan baru mengenai akumulasi kartu. Sebelumnya, para pemain yang mendapat lima kartu kuning akan mendapat larangan bermain satu pertandingan. Di paruh kedua musim ini FA menetapkan setiap pemain baru dikenakan sanksi larangan bermain jika mendapat 10 kartu kuning.

Tentu saja itu membuat para pemain bisa bernapas lega karena mereka berpeluang besar tidak akan melewatkan pertandingan besar. Pemain yang belum tahun baru sudah mendapatkan empat kartu kuning dan tersisa satu kesempatan lagi. Kini mereka memiliki enam kesempatan lagi sebelum mendapat larangan bertanding.

Biasanya pemain juga mendapatkan kartu kuning dari hal-hal konyol yang seharusnya tidak mereka lakukan. Seperti membuang-buang waktu, menendang bola jauh dari lapangan, atau melepas kostum saat mencetak gol. Itu sebenarnya hal yang sangat mengganggu pelatih, mereka pasti khawatir untuk menurunkan pemain tersebut karena akan mendapat kartu dan di berikan sanksi larangan bermain.

Meskipun akumulasi 10 kartu kuning bisa membuat para pelatih sedikit tenang, tetap saja para pemain harus bisa membuat diri mereka terhindar dari hukuman kartu kuning. Para pelatih pastinya akan menginstruksikan para pemainnya untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosinya.

Perubahan peraturan kartu yang lainnya adalah wasit diperbolehkan memberikan kartu merah sebelum pertandingan dimulai. Hal itu berlaku jika pada saat pemanasan atau kedua tim sedang berada di lorong untuk memasuki lapangan kedua tim terlibat insiden kekerasan. Itu memungkinkan wasit untuk mengusir pemain keluar dari lapangan.

Sebuah insiden yang paling terkenal di lorong saat kedua tim akan memasuki lapangan pertandingan terjadi pada tahun 2005 di Stadion Highbury. Kapten Arsenal FC, Patrick Viera dan pemain Manchester United FC, Roy Keane, tertangkap kamera sedang terlibat kekerasan. Namun, tidak ada sanksi yang diberikan karena peraturan belum di tetapkan.

Selain itu, ada peraturan baru lainnya di Liga Primer pada pertengahan musim ini. Peraturan itu adalah saat memulai pertandingan atau kick-off, biasanya sebelum memulai pertandingan ada dua pemain yang bersiap di tengah lapangan untuk mengoper bola. Tapi, peraturan baru ini hanya membolehkan saat pemain yang bersiap membagi bola ke rekan setimnya saat kick-off.

Napoli Tak Takut Rotasi

NAPOLI – Meski turun dengan beberapa pemain cadangan, Napoli masih terlalu tangguh bagi Spezia. Mereka melenggang ke perempat final Piala Italia setelah mengeliminasi tamunya, 3-1, di San Paolo, Selasa (10/1) atau Rabu dini hari WIB.

Sukses itu melegakan bagi Maurizio Sarri. Pelatih Napoli itu menonton dari tribune lantaran diskros dua pertandingan sebagai buntut perselisihannya dengan Roberto Mancini musim lalu. I Partenopei yang didampingi Francesco Calzone menerapkan permainan sesuai rencana meski masih ada banyak kekurangan.

“Performa tim lebih baik ketimbang saat menemui Sampdoria, meski bukan yang terbaik. Tim ini dari sudut pandang Atletik sudah bagus, kami berlatih lebih sering ketika jeda untuk penyusunan taktik,” kata asisten Sarri itu. “Kami mencetak gol cepat dan membangun pertahanan ditengah lapangan mereka. Seharusnya kami bisa menyudahi pertandingan lawan tim tangguh Seri B dalam waktu 20 menit. Masalah tetap ada, mungkin disebabkan ada banyak pemain yang jarang di turunkan.”

Rafael, Marko Rog, dan Emanuele Giaccherini akhirnya di tunjuk jadi starter musim 2016/17. Untuk ukuran penampilan perdana, rapor ketiganya tidak mengecewakan. Ini membuktikan bahwa rotasi tak lagi jadi momok bagi Napoli karena kemampuan pemain setara.

Giaccherini dan Rog turut menentukan hasil pertandingan. Kesan misterius yang menyelubungi kedua pemain perlahan-lahan mulai menghilang. Winger yang bersinar di Piala Eropa 2016 itu kembali unjuk gigi.

Kurang meyakinkan mengisi posisi sayap kiri murni, Giak tidak menyerah. Dia pun mencoba menempati sayap kanan. Di luar dugaan, penampilannya mengesankan bahkan membuat Napoli kembali unggul. Dia puasa gol sejak 24 April lalu dalam pertandingan Bologna – Genoa.

“Untungnya saya tidak di gantikan, Spezia sempat menyulitkan kami di babak pertama ketika kami bermain lamban. Tapi penampilan kami dibabak kedua berubah. Kami ingin berjuang sampai akhir di semua kompetisi, kami sudah berada di jalur yang tepat. Secara pribadi saya dapat main lebih baik di sayap kiri dan menunggu kesempatan ini,” Giaccherini mengungkapkan.

Sementara Rog juga “menampilkan dirinya” di hadapan publik San Paolo dengan cara terbaik, gesit ketika menggocek dan melepaskan assist untuk gol manolo Gabbiadini. Eks pemain Dinamo Zagreb itu bisa menjadi setengah penyerang dan gelandang dalam.

Fan The Reds Raih Penghargaan Baru

FIFA puji aksi bersama pendukung Liverpool dan Dortmund.

LIVERPOOL – Juergen Klopp mengungkapkan sukacitanya atas penghargaan FIFA Fan Award yang diberikan kepada suporter Liverpool FC dan Ballspielverein Borussia 09 e.V.Dortmund alias Borussia Dortmund di Zurich, Senin (9/10). Menurut pelatih berkebangsaan Jerman itu, keluarga besar The Reds dan Dortmund sepatutnya merasa bangga menerima penghargaan itu.

Inilah kali pertama FIFA memberikan penghargaan tersebut. Sengaja di tujukan kepada fan Liverpool dan Dortmund atas aksi luar biasa mereka ketika bersama-sama menyanyikan lagu You’ll Never Walk Alone sebelum laga perempat final kedua Liga Europa di Anfield, April tahun lalu. FIFA memuji kerukunan suporter kedua tim.

Rupanya, jadwal laga itu bertepatan dengan malam perayaan ke-27 tahun insiden Hillsbrorough. Tanpa di komando, fan kedua tim bersatu menyanyikan lagu kebesaran The Reds itu. Mereka lalu memberikan penghormatan bagi para korban dengan membentuk mosaik di tribune The Kop dan pendukung tim tandang.

Aksi bersatunya fan kedua klub tersebut itu kemudian di pertontonkan dalam malam penghargaan tahunan FIFA di Zurich. Di luar dugaan, penggemar sepak bola di seluruh duni memberikan suara terbanyak untuk fan Liverpool dan Dortmund di antara momen-momen terbaik fan seleksi FIFA. Termasuk, dari fan ADO Den Haad dan Islandia.

“Pada malam itu adalah salah satu momen yang paling spesial sekaligus paling aneh dalam hidup saya,” ujar Klopp, mantan pelatih Dortmund. “Mungkin pada saat itu saya tidak menyadari betapa kompleknya emosional saya, Zeljko Buvac, Peter Krawietz (dua asisten Klopp sejal masih di Dortmund). dan seluruh keluarga kami. Kontribusi fan kedua tim sungguh luar biasa. Kejadian seperti ini patut kita jadikan contoh.”

Klopp semakin meyakini bagainana pendukung bisa mempengaruhi permainan tim di lapangan dengan aksi-aksi mereka. “Rasa hormat yang di tunjukkan oleh teman-teman kami dari Dortmund benar=benar khas nilai-nilai kelas dunia yang di junjung tinggai klub itu,” ujarnya.

Intinya, terlepas dari skor akhirnya, Klopp merasa semua orang yang ada di Anfieldd malam itu, ataupun yang menonton di rumah, apakah mereka menggenakan kaus ketak atau kuning hitam, menyadari betapa sepak bola bisa sangat membanggakan.