Lallana Nyaman di Liverpool

Tuesday, October 25th at 6:14 AM

Sabtu (22/10) lalu, gelandang The Reds itu jalani laga ke-100.

ADAM LALLANA sempata mengalami kesulitan mempertahankan performanya di lapangan saat baru tiba di Anfield dari Southampton FC, dua tahun lalu. Debut laga Liga Primer bersama The Reds, dengan melawan Aston Villa di pekan keempat pada 13 September 2014 pun berakhir buruk. Liverpool yang kala itu dilatih Brendan Rodgers kalah 0-1.

Seiring pergantian pelatih dari Rodgers ke Juergen Klopp pada Oktober 2015 lalu, peran dan posisi Lallana berubah sangat signifikan. Ia tak hanya langganan starter tetapi sudah menjadi salah satu pemain penting bagi pelatih asal Jerma tersebut.

Meningkatnya performa Lallana, menunjukkan kecocokan gaya bermain Klopp dengan sang pemain. Kini, ia menjadi bagian dari lini serang The Reds bersama Philippe Coutinho, Sadio Mane, dan Roberto Firmino.

Sabtu (22/10) lalu, saat ikut membantu mengalahkan West Bromwich Albion, 2-1, Lallana merayakan laga ke-100 bersama Liverpool disemua ajang. Di laga Primer musim ini, hingga pekan ke sembilan, ia selalu dimainkan Klopp.

“Waktu akan berlalu begitu saja ketika anda bersenang-senang dan melakukan apa yang kali sukai,” ucap Lallana. “Saya bahagia dapat bermain baik bersama tim. Ketika saya pertama bergabung dengan Liverpool dibawah kepimpinan pelatih lain. Secara pribadi saya merasa banyak hal berbeda.”

Lallana mengungkapkan, Liverpool saat ini memiliki banyak pemain dinamis dengan teknik bagus yang didukung kecerdasan. Ia merasa kemenangan skuat Klopp atas West Brom lalu merupakan hal positif. Hasil tersebut menjadi pembuktian tim asuhan Klopp mampu meningkatkan permainan mereka usai imbang 0-0 di Anfield melawan Manchester United (MU), Senin (17/10).

Kini Liverpool berhasil naik ke peringkat tiga dengan 20 poin di Liga Primer. Menyamai total raihan Manchester City yang memimpin klasemen dan Arsenal di peringkat kedua.

“Saya pikir kami melakukan yang terbaik, Senin malan dan saat berbincang dengan para pemain, kami semua kecewa tidak dapat memenangi pertandingan (kontra MU) itu,” ujar Lallana. “Kami saling bekerja sama dan kami hanya harus mempertahankan konsistensi tersebut. Tetapi kami telah cukup melakukan yang terbaik untuk menang dan itu yang terpenting.”

Lallana kali pertama mengenal sepak bola secara benar di Bournemouth Centre of Excellence. Pada September 2000, saat baru 12 tahun, Southampton tidak keberatan memberi kompensasi 3.000 pound untuk Bournemouth agar melepas Lallana.